Nama : Hamidun
Nim : 11901087
Kelas : PAI 4A
Mata Kuliah : Magang 1
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd.
KULTUR SEKOLAH
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang di dalamnya memiliki sebuah sistem kehidupan yang mengatur warga sekolah. Sekolah menjadi bagian penting dari kultur nasional yang dikembangkan melalui kultur sekolah. Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah dituntut menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan akademis tertentu, ketrampilan, sikap dan mental, serta kepribadian lainnya sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja pada lapangan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan ketrampilannya. (Moerdiyanto: 2007).
Pengertian kultur sekolah
Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah. Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah (Aan Komariah, 2006 : 121).
Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).
Pengertian kultur sekolah beraneka ragam. Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi.
Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas sekolah misalnya, sekurangnya ada lima aspek pokok yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut :
1) proses belajar mengajar,
2) kepemimpina sekolah,
3) manajemen sekolah,
4) sarana dan prasarana dan
5) kultur sekolah (Ariefa: 2008).
Namun aspek yang kelima yaitu kultur sekolah, belum banyak diangkat sebagai salah satu aspek yang menentukan, termasuk dalam upaya peningkatan kualitas sekolah dalam pengembangan good school (sekolah efektif). Kultur sekolah menekankan pentingya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah dan realitas sosial. Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi diantara para anggotanya. Sekolah mempunyai kultur yang harus dipahami dan dilibatkan agar perubahan yang terjadi bisa berlangsung terus menerus. Menurut Seymour dan Sarason (dalam Farida Hanum: 2013), kultur sekolah mempunyai kultur yang harus dipahami dan harus dilibatkan jika suatu usaha mengadakan perubahan terhadapnya tidak sekedar pencitraan. Melalui kultur sekolah yang baik, sekolah juga dapat dikembangkan menjadi sebuah sekolah yang efektif atau biasa disebut dengan istilah good school. Menurut Mortimore (Ariefa: 2010) good school atau sekolah efektif merupakan sekolah yang bukan hanya mendukung tercapainya prestasi akademik akan tetapi juga menjaga agar semua siswa dapat berkembang sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah.
Program-program sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah untuk mendukung good school (sekolah efektif) baik untuk guru dan siswa ada berbagai macam. Bagi guru ada program silabus dan RPP (Rancangan Proses Pembelajaran), pengembangan soalsoal HOTS (Higher Order Thingking), dan pengembangan ERaport. Semua program tersebut berjalan beriringan dan dapat diikuti oleh semua guru dengan baik.
Karakteristik Kultur Sekolah
Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku 18 dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :
1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas :
(a) semangat membaca dan mencari referensi;
(b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup;
(c) kecerdasan emosional siswa;
(d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis;
(e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.
2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :
(a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan;
(b) nilai-nilai keterbukaan;
(c) nilainilai kejujuran;
(d) nilai-nilai semangat hidup;
(e) nilai-nilai semangat belajar;
(f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain;
(g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain;
(h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan;
(i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;
(j) nilai-nilai disiplin diri;
(k) nilai-nilai tanggung jawab;
(l) nilai-nilai kebersamaan;
(m) nilai-nilai saling percaya;
(n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).
Keberadaan siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah mempunyai peranan yang tidak kecil dalam kelangsungan pendidikan di sekolah. Guru dapat saja mengajar meskipun tidak ada bangku, tidak ada ruang kelas, tidak ada buku dan tidak ada alat peraga. Tapi guru tidak dapat mengajar tanpa ada siswa yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung. Membangun kegiatan pengajaran dan pendidikan di sekolah tidak saja berarti membangun kinerja guru melainkan juga kinerja siswa. Upaya-upaya meningkatkan kinerja siswa pada proses pembelajaran dirinya sangatlah penting, terutama karena pada hakikatnya merekalah pemilik sekolah. Sekolah dan segenap komponen lainnya disediakan untuk membantu proses belajar siswa. Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) merupakan generasi muda dan aset bangsa yang harus dipersiapkan agar memiliki watak dan karakter yang unggul dan tangguh dan memiliki komitmen terhadap kewajibannya sebagai individu maupun anggota masyarakat. Mereka ini pada umumnya berada dalam masa perkembangan sangat sensitif untuk menemukan jati dirinya atau dalam pembentukan watak dan karakter pribadinya. Pendidikan formal di sekolah merupakan upaya yang sangat strategis untuk membentuk karakter dan kepribadiannya di samping keluarga dan masyarakat. Pendidikan yang berwujud lembaga atau institusi sekolah dalam terminologi kebudayaan, dapat dianggap sebagai suatu pranata sosial yang di dalamnya berlangsung kelakuan-kelakuan tertentu yaitu interaksi antara pendidik dan peserta didik sehingga mewujudkan suatu sistem nilai atau keyakinan, norma juga kebiasaankebiasaan yang dipegang bersama.
Fungsi Kultur Sekolah
Dalam upaya meningkatakan sekolah yang dituntut untuk terus menerus melakukan perbaikan , pengembangan kualitasnya melalui peningkatan kultur sekolah memegang peranana penting dalam peningkatan mutu karena memiliki emapat fungsi yaitu
Ø Sebagai alat untuk membangun identitas (jati diri).
Ø Kultur sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.
Ø Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya stabilitas dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.
Ø Kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.
Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7).
Identifikasi Kultur Sekolah
Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak teramati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama budaya berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah dan biasa disebut artifak.
Peran Kepala Sekolah
Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung (Starratt, J Robbert, 2007: 13).
KESIMPULAN
Ø Budaya sekolah merupakan perilaku bersama warga sekolah dan konsensus bersama yang positif maupun negatif yang dilakukan oleh warga sekolah yang merupakan kepercayaan dasar yang dianut semua warga sekolah dalam sikap dan perilaku.
Ø Dengan budaya sekolah mampu menjadikan lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mewujudkan kualitas pendidikan yang baik selaras dengan visi maupun misi sekolah serta dapat mengoptimalkan kinerja guru, kepala sekolah, karyawan dan siswa sehingga hasilnya optimal sesuai dengan harapan.
Sumber bacaan:
Sukadari, Peranan Budaya Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan,jurnal exponential,vol,1,No,1 maret 2021
Nurul Imtihan, Kultur Sekolah Dan Kinerja Peserta Didik Man Yogyakarta III, Tadbir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Volume 6, Nomor 2 : Agustus 2018
Ariefa Efianingrum, Kultur Sekolah, Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.1 , Mei 2013
Komentar
Posting Komentar